Wirausaha/ Entrepreneur

Kewirausahaan dapat diartikan sebagai sikap, nilai dan kemampuan untuk mencari, melihat dan memanfaatkan peluang, menciptakan sesuatu yang baru dengan menggunakan sumber daya untuk memberikan balas jasa dan memperoleh keuntungan.

Bisnis salon rumahan merupakan salah satu bisnis usaha yang tergolong jenis usaha UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah). Dimana usaha kecil adalah usaha yang pemiliknya mempunyai jalur komunikasi langsung dengan kegiatan operasi dan juga dengan sebagian besar tenaga kerja yang ada dalam kegiatan usaha tersebut. Biasanya hanya mempekerjakan tidak lebih dari limapuluh orang.

Usaha kecil memiliki ciri-ciri :

  • Manajemen tergantung pemilik.
  • Modal disediakan oleh pemilik sendiri.
  • Skala usaha dan jumlah modal relatif kecil.
  • Daerah operasi usaha bersifat local.
  • Sumberdaya manusia yang terlibat terbatas.
  • Biasanya berhubungan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari.
  • Karyawan ada hubungan kekerabatan emosional.
  • Mayoritas karyawan berasal dari kalangan yang tidak mampu secara ekonomis.

Terdapat berbagai alasan yang melatarbelakangi masyarakat, sehingga tertarik untuk menjalankan bisnis usaha kecil. Alasan tersebut di antaranya adalah :

  • Banyak orang yang terlibat dalam usaha kecil.
  • Usaha-usaha kecil menghasilkan kelompok “senasib”, yang bisa sangat vokal dan besar, sehingga secara politis tidak mungkin diabaikan.
  • Usaha kecil menawarkan banyak kesempatan kerja.
  • Usaha kecil mengurangi kemiskinan dan memiliki sumbangan terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Keberhasilan menjalankan usaha kecil paling tidak ditentukan oleh 2 (dua) faktor, yakni pengetahuan usaha dan keterampilan usaha, dimana :

A. Pengetahuan Usaha :

Seorang individu yang berpikir tentang kewirausahaan perlu mengembangkan beberapa bidang pengetahuan bisnis. Pengetahuan adalah pemahaman tentang sebuah subyek yang diperoleh melalui pengalaman atau melalui pembelajaran dan studi. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cara-cara berikut ini :

  1. Belajar tentang komunitas. Seperti apa masyarakat yang tinggal didalamnya, usia, menikah atau lajang, jumlah anggota keluarga mereka, dan tingkat pendapatan mereka.
  2. Mengetahui apa yang sedang terjadi. Gaya busana terkini, makanan, layanan yang banyak dicari, jenis olahraga yang sedang populer. Pada dasarnya, seorang wirausaha selalu ingin mengetahui apa yang baru dan berbeda.
  3. Pendidikan. Masing-masing mata pelajaran yang dipelajari di sekolah akan menjadi bekal7penting bagi kelak ketika seseorang menjadi seorang wirausaha, termasuk matematika, sejarah, bahasa, pembukuan,perbengkelan, ekonomi rumah tangga, pemasaran, produksi pertanian, dan sastra Inggris.
  4. Belajar dalam pekerjaan. Pekerjaan di bidang kejuruan memberikan anda pengalaman dan pengetahuan praktis setiap hari.

B. Keterampilan Usaha :

Seorang wirausaha membutuhkan banyak keterampilan untuk dapat menjalankan bisnis dengan sukses. Kemampuan yang baik dalam menerapkan pengetahuan yang diperoleh dan membuktikan kemampuannya tersebut dalam menjalankan sebuah bisnis menunjukkan tingkat keterampilan yang diperoleh oleh seorang wirausaha.

Keterampilan-keterampilan ini berbeda-beda antara satu bisnis dengan bisnis yang lain, karena setiap usaha memang berbeda. Tentu saja, setiap bisnis akan membutuhkan beberapa pengetahuan dan keterampilan khusus yang diperlukan untuk bisnis itu sendiri. Meskipun demikian, terdapat keterampilan-keterampilan umum dan pengetahuan yang bersifat umum bagi kebanyakan bisnis. Beberapa keterampilan dan pengetahuan umum tersebut, meliputi :

  1. Mengembangkan sebuah rencana bisnis. Ini merupakan sebuah proposal yang menggambarkan bisnis anda dan berlaku sebagai sebuah panduan untuk mengelola bisnis anda. Seringkali, rencana bisnis menjadi penting ketika anda perlu meminjam uang atau ketika anda ingin agar orang-orang menanamkan modalnya dalam usaha anda.
  2. Memperoleh bantuan teknis. Memperoleh bantuan dari orang-orang yang berpengalaman dan lembaga-lembaga khusus dapat memberikan pengetahuan tambahan dan keterampilan untuk mengambil keputusan bagi para wirausaha.
  3. Memilih jenis kepemilikan. Bagaimana sebuah bisnis dibangun secara legal tergantung pada bagaimana bisnis tersebut dimiliki. Apabila satu orang memiliki bisnis tersebut, maka bisnis tersebut merupakan bisnis kepemilikan tunggal. Apabila terdapat lebih dari satu orang yang mengambil bagian dalam kepemilikankepengurusan bisnis tersebut, maka bisnis tersebut merupakankemitraan. Sebuah korporasi diatur oleh negara dan beroperasi sebagai entitas legal yang terpisah dari para pemiliknya.
  4. Merencanakan strategi pasar. Hal ini merupakan alat bisnis untuk membantu merencanakan semua kegiatan yang terlibat dalam pertukaran barang dan jasa antara produsen dan konsumen.
  5. Lokasi Bisnis. Hal ini merupakan sebuah keputusan yang penting yang dapat “membangun” atau “menghancurkan” sebuah bisnis baru. Pemilik usaha kecil harus memilih lokasi yang “tepat” untuk bisnisnya.
  6. Membiayai bisnis. Penting untuk mengetahui ke mana harus meminjam uang yang dibutuhkan untuk memulai bisnis anda dan membuatnya tetap berjalan.
  7. Menangani isu-isu hukum. Wirausaha berhadapan dengan berbagai pertanyaan hukum. la perlu mengetahui kapan ia harus mencari nasehat dan kemana ia harus mencari nasehat hokum tersebut.
  8. Mentaati peraturan pemerintah. Peraturan pemerintah ada untuk melindungi semua orang yang terlibat di dalam bisnis (warga yang ingin bekerja untuk bisnis tersebut, konsumen, pemilik bisnis, dan bahkan lingkungan). Peraturan-peraturan mengenai pengoperasian usaha-usaha kecil dibuat di tingkat Negara (nasional), propinsi, kabupaten/kota, dan lokal.
  9. Mengelola sumber daya manusia. Manajemen sumber daya manusia melibatkan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan evaluasi seluruh kegiatan yang langsung melibatkan pegawai dan mendorong produktifitas mereka.
  10. Mempromosikan bisnis. Tujuan promosi adalah menginformasikan kepada konsumen tentang barang dan jasa yang diproduksi, untuk membantu mereka membuat keputusan pembelian yang baik.
  11. Mengelola upaya penjualan. Sangat penting untuk menggunakan prinsip-prinsip penjualan yang baik untuk menarik pelanggan baru serta untuk terus melayani pelanggan lama. Jika sebuah perusahaan tidak dapat menjual barang atau jasanya, perusahaan tersebut tidak akan menghasilkan laba dan bisnis tersebut akan gagal.
  12. Mengelola keuangan. Hal ini dibutuhkan sebuah usaha yang ingin berkembang dan menghasilkan laba. Tugas-tugas manajemen keuangan mencakup membaca dan menganalisis laporan-laporan keuangan dan kemudian menggunakan informasi ini untuk menentukan kekuatan dan kelemahan perusahaan tersebut. Laporan keuangan memberikan informasi yang dibutuhkan untuk menyusun rencana dan mengambiltindakan korektif yang diperlukan.
  13. Mengelola kredit pelanggan dan penagihannya. Pemilik usaha kecil sering kali harus memberikan kredit kepada pelanggan agar mereka tidak pindah ke perusahaan lain. Pada saat yang bersamaan, mereka harus menghindari pinjamanpinjaman yang melewati tenggat waktunya yang dapat membuat modal mandeg dan meningkatkan biaya penagihan. Kredit pelanggan diberikan kepada orang-orang yang latar belakangnya dalam pembayaran utang sudah diperiksa. Penagihan mengacu pada metode atau jadwal yang digunakan untuk pembayaran.
  14. Perlindungan bisnis. Penting untuk mengidentifikasi risiko-risiko yang dihadapi oleh wirausaha karena kejahatan bisnis atau kehilangan hak milik. Selain itu, tindakan berjaga-jaga seperti membeli asuransi harus diambil, sehingga sebuah perusahaankecil dapat mengurangi kerugiannya karena risiko-risiko.

Usaha kecil merupakan usaha paling mudah dijumpai disekitar tempat tinggal kita maupun lingkungan sekolah dan lingkungan kerja kita. Bagi seorang wirausaha pemula, terdapat tiga cara yang lazim digunakan oleh mereka, sebelum memulai bisnis baru sebagai pewirausaha, meliputi :

  1. Mengambil alih usaha keluarga, biasanya dilakukan oleh anak maupun orang kepercayaan dalam keluarga.
  2. Membeli usaha yang telah ada dengan melihat prospek usaha yang telah dimasuki.
  3. Menciptakan bisnis sendiri.

Salah satu faktor pendorong kenapa seseorang suka untuk berwirausaha adalah dikarenakan bentuk usaha wirausaha mampu memberikan kepuasan pribadi bagi pemiliknya untuk mengelola bisnis sendiri. Pemilik dapat menurahkan segala kemampuan untuk mengambil keputusan bisnis tanpa harus berkoordinasi dengan orang lain. Manfaat lainnya adalah peningkatan penghasilan secara luarbiasa bagi mereka yang sukses dalam menjalani bisnis wirausaha.

Terdapat konsekuensi yang harus ditanggung oleh seorang wirausaha manakala memutuskan dirinya untuk terjun dalam bisnis baru, diantaranya diperlukan biaya maupun modal yang besar, dimana biaya serta modal besar yang dikeluarkan diawal investasi bisa hilang jika perusahaan tidak berkembang dan terus merugi. Usaha kecil cenderung memiliki penghasilan yang tidak teratur, bahkan pada masa-masa awal bisa sama sekali tidak mendapatkan keuntungan.

C. 5 (lima) Kiat Berbisnis Salon Secara Mandiri :

banner_salon

Pelanggan umumnya ingin dilayani oleh tenaga yang punya kompetensi.

KOMPAS.com – Bisnis salon sangat emosional, kata Rudy Hadisuwarno (62), penata rambut ternama dan pemilik Salon Rudy Hadisuwarno. Karenanya, saat memutuskan mengelola bisnis salon mandiri, Anda harus menjalankannya sepenuh hati. Pemilik salon juga wajib memiliki keterampilan dan memahami seluk beluk dunia salon, termasuk menguasai teknik tata rambut. Bermodalkan keterampilan, penguasaan bidang serta manajemen bisnis yang baik, salon akan bertahan dan mampu bersaing.

1. Mau belajar dan melek tren terkini

  • Pengetahuan dan keterampilan mengenai tata rambut wajib dimiliki pemilik salon. Karenanya ia harus mau belajar, bahkan jika perlu bersekolah khusus tata rambut, tata rias wajah, dan berbagai keterampilan terkait lainnya.
  • “Pemilik salon mandiri harus belajar mengenai tata rambut. Kecuali jika ingin membuka salonfranchise, pemilik tak harus belajar tata rambut secara khusus. Namun pemilik yang memiliki keterampilan dan pengetahuan, ia bisa mengatasi berbagai masalah di salon. Kalau buka salon mandiri, pemiliknya harus belajar, memahami dan menjiwai apa yang dijualnya,” jelas Rudy saat ditemui Kompas Female di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu (18/6/2011) lalu.
  • Pemilik salon harus haus ilmu. Belajar dan bersekolah untuk menguasai bidang kecantikan, mulai tata rambut, tata rias wajah, apapun yang berkaitan dengan salon akan menunjang bisnis. “Belajar ke luar negeri untuk perbandingan juga perlu,” jelas Rudy, merekomendasi sekolah hairstylist di London, Tokyo, dan Korea sebagai tempat menggali wawasan untuk pemilik salon mandiri.
  • Pemilik perlu selalu mengikuti perkembangan tren. “Sekolah fashion tak ada habisnya, harus terus belajar, harus terus update. Seringkali salon ngetop tetapi 10 tahun kemudian hilang karena pemiliknya tidak update, pemiliknya merasa nyaman dengan comfort zone karena merasa salonnya sudah terkenal,” lanjut Rudy.

2. Fokus, namun mulai dengan salon keluarga

  • Pemilik salon mandiri perlu fokus jika ingin berhasil membangun bisnis. Namun sebagai langkah awal, mulailah membuka salon keluarga, dengan semua segmen bisa dipenuhi kebutuhannya.
  • “Membuka family salon pada tahap awal penting untuk mengenal Anda cocok dengan tipe salon seperti apa. Kalau sudah berjalan, Anda bisa menyeleksi ingin fokus ke segmen mana. Salon untuk anak muda, ibu-ibu, anak-anak atau salon pria,” jelas Rudy.
  • Nah, pada tipe salon tertentu membutuhkan pengetahuan ekstra. Misalnya salon khusus anak-anak, Anda perlu belajar psikologi untuk memperlakukan anak saat memberikan jasa layanan salon Anda.

3. Jalankan dengan sepenuh hati, tanamkan rasa menghargai

  • Selain bekal ilmu mengenai bisnis salon dan berbagai keterampilan di bidang kecantikan, pemilik juga perlu memunculkan rasa penghargaan dari karyawan. “Bisnis salon sangat emosional, sensitif, menjalankannya harus pakai hati. Jika tidak karyawan tidak menghargai pemiliknya. Karenanya pemilik juga perlu memahami seluk beluk bisnis salon, dan memiliki keterampilan di salon agar karyawan menghargai pemiliknya,” jelas Rudy.
  • Ketidakpahaman pemilik mengenai bisnis salon, minimnya perhatian dan hubungan yang tak hangat dengan karyawan, juga turut menentukan keberhasilan bisnis salon. Menurut Rudy, menjalankan bisnis salon harus menggunakan perasaan. Kalau gonta-ganti karyawan terus menerus, salon juga tidak jelas keberadaannya, bisnis cenderung tak berhasil. Penata rambut yang terus berganti membuat pelanggan tak nyaman, karena harus berganti penata rambut yang merasa sudah cocok dengannya. Pelanggan menjadi tak loyal dengan salon yang tak dikelola dengan sepenuh hati.

4. Siap mental, tingkatkan wawasan

  • Kesiapan mental penting dimiliki pemilik bisnis salon. Terutama mental menghadapi pelanggan. Memang dibutuhkan pengalaman dan jam terbang untuk membangun mental baja menjalani bisnis, termasuk salon. Untuk menyiapkan mental, pemilik salon bisa belajar meningkatkan wawasan dan pengetahuan seputar berbisnis.
  • “Kesiapan menjalani bisnis memang butuh pengalaman, selain juga intuisi. Belajar dari buku bisnis atau belajar manajemen juga bisa menunjang. Jika ingin berbisnis salon perlu mempersenjatai diri dengan pengetahuan lain, seperti bisnis dan manajemen,” jelas Rudy yang berhasil menelorkan penata rambut sekaligus pengusaha ternama seperti Jacky Timurtius dan Sugi Martono dari Rudy Hadisuwarno School.

5. Gaet segmen terdekat

  • Promosi menjadi penting jika ingin memulai bisnis salon. Buat saja selebaran untuk memulai usaha, dengan menyasar segmen di lingkungan terdekat Anda. Lakukan cara sederhana untuk memulai bisnis salon mandiri, terutama dalam hal berpromosi. Gaet segmen dari lingkungan terdekat. Perlahan tapi pasti, saat pelayanan memuaskan dan nama salon Anda semakin dikenal, bisnis akan berkembang lebih luas.
Penulis :
Wardah Fazriyati
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s